إِرَادَتُكَ التَّجَرُّدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي الأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الخَفِيَّةِ

“Irādatuka at-tajarrud ma‘a iqāmatillāhi iyyāka fī al-asbāb mina asy-syahwatil-khafiyyah.”

“Keinginanmu untuk hidup zuhud (melepas dunia), padahal Allah menempatkanmu di tengah-tengah urusan dunia, adalah bentuk nafsu yang tersembunyi.”
Ibnu ‘Aṭāillah as-Sakandarī, Al-Ḥikam


Zuhud: Antara Spiritualitas dan Realitas

Banyak orang memahami zuhud sebagai menjauhi harta, jabatan, atau dunia secara total. Namun dalam maqolah ini, Ibnu Athaillah memberi peringatan yang dalam dan halus: terkadang keinginan menjadi orang zuhud itu sendiri bisa menjadi bentuk nafsu—jika tidak sesuai dengan posisi yang Allah tentukan untuk kita.

Jika Allah menempatkan kita sebagai orang tua, pemimpin, pedagang, guru, atau pelayan masyarakat, maka justru di tengah peran itu kita harus menghadirkan nilai-nilai spiritual, bukan lari darinya dengan alasan ingin “zuhud”.


Nafsu yang Tersamar: Bukan Dunia, Tapi Gengsi Ruhani

Maqolah ini menyentil bentuk “kesalehan yang palsu”—di mana seseorang bercita-cita untuk tampil sebagai pribadi zuhud, bukan karena ingin mendekat pada Allah, melainkan karena ada rasa ingin diakui, ingin dianggap suci, atau ingin lari dari tanggung jawab dunia.

Inilah yang disebut asy-syahwah al-khafiyyahnafsu tersembunyi. Ia tidak berteriak lantang seperti syahwat terhadap harta atau kekuasaan, tetapi bersembunyi dalam pakaian kesalehan.


Zuhud yang Sejati

Perlu kita ketahui zuhud dalam pandangan para sufi bukan berarti “tidak memiliki dunia”, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan. Seseorang bisa punya harta, jabatan, dan aktivitas sosial, tetapi hatinya tetap terikat hanya kepada Allah.

Dalam hal ini Ibnu Athaillah ingin menyampaikan bahwa zuhud yang sejati adalah tunduk dan ridha terhadap ketetapan Allah. Jika Allah menempatkan kita di dunia pekerjaan, maka berkaryalah di sana dengan niat ibadah. Jika Allah takdirkan kita berurusan dengan dunia, jalani itu tanpa menjadikan dunia sebagai ilah (tuhan).


Relevansi di Kehidupan Modern

Hari ini, banyak orang mendambakan “kabur dari dunia”: ingin resign, pindah ke desa, jadi petapa, atau menghindari tanggung jawab sosial—dengan dalih ingin “lebih tenang” atau “lebih dekat dengan Tuhan”. Tapi bila semua itu tidak dilandasi petunjuk dan panggilan dari Allah, bisa jadi itu hanya nafsu dalam bentuk baru—yaitu nafsu ingin tampil sebagai orang spiritual.

Zuhud bukan tentang melarikan diri dari dunia, tapi mengelola dunia dengan jiwa yang terikat pada akhirat.


Kesimpulan: Bertauhid dalam Keseharian

Maqolah ini mengajarkan keseimbangan. Bahwa hidup spiritual bukan selalu berarti menyendiri dan menjauh dari masyarakat, tapi menghadirkan Allah dalam setiap peran dan tanggung jawab duniawi yang kita jalani. Zuhud bukan tentang pakaian, profesi, atau gaya hidup—tetapi tentang ikatan hati.

Jangan sampai keinginan menjadi zuhud justru membuat kita mengingkari takdir Allah yang telah menempatkan kita dalam medan amal yang seharusnya menjadi ladang ibadah.

 

#

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *